Tingginya Level Antibodi Dapat Meningkatkan Risiko Rheumatoid Arthritis

Tingginya Level Antibodi Dapat Meningkatkan Risiko Rheumatoid Arthritis – Pria dan wanita dengan tingkat antibodi tinggi memiliki risiko jangka panjang hingga 26 kali lipat lebih besar mengalami rheumatoid arthritis. Hal ini berdasarkan sebuah penelitian yang diterbitkan pada bmj.com.
Temuan ini menyampaikan perlunya acuan awal untuk pemeriksaan setelah hasil tes aktual faktor penyebab rheumatoid, bahkan tanpa adanya gejala rematik khas menyerupai rasa sakit dan pembengkakan pada sendi, kata para peneliti.
Rheumatoid arthritis yaitu gangguan inflamasi persendian kronis yang mensugesti sekitar 1% dari populasi dunia, wanita tiga kali lebih sering mengalami hal ini daripada pria.
Tidak ada tes darah yang secara pasti dapat mendiagnosa rheumatoid arthritis, namun tes faktor aktual rheumatoid dapat mengindikasikan kondisi tersebut. Namun, tidak terang apakah tingkat antibodi yang tinggi pada orang tanpa rheumatoid arthritis berkaitan dengan perkembangan selanjutnya dari penyakit tersebut.
Tingginya Level Antibodi Dapat Meningkatkan Risiko Rheumatoid Arthritis Tingginya Level Antibodi Dapat Meningkatkan Risiko Rheumatoid Arthritis
Pria dan wanita dengan tingkat antibodi tinggi memiliki risiko jangka panjang hingga 26 kali lipat lebih besar untuk mengalami rheumatoid arthritis. (Credit: Getty Images)
Oleh alasannya itu tim peneliti yang berbasis di Denmark memulai untuk menguji apakah meningkatnya faktor penyebab rheumatoid berkaitan dengan perkembangan jangka panjang rheumatoid arthritis.
Mereka mengukur tingkat faktor rheumatoid pada 9.712 orang Denmark berkulit putih usia 20 hingga 100 tahun yang tidak mengidap rheumatoid arthritis pada awal pengamatan dan mengikuti perkembangan mereka selama 28 tahun.
Peningkatan faktor rheumatoid dari 25-50 IU / mL, 50,1-100 IU / mL dan lebih dari 100 IU / mL dibandingkan dengan tingkat normal (kurang dari 25 IU / mL).
Selama masa pengamatan, 183 orang mengalami rheumatoid arthritis.
Setelah memperhitungkan beberapa kemungkinan faktor risiko yang lain, dua kali lipat dari tingkat faktor rheumatoid dikaitkan dengan peningkatan risiko 3,3 kali lipat terkena rheumatoid arthritis. Tingkat tertinggi faktor rheumatoid (100 IU / mL atau lebih) dikaitkan dengan risiko 26 kali lipat untuk mengalami rheumatoid arthritis.
Secara absolut, selama 10 tahun risiko tertinggi untuk mengalami rheumatoid arthritis sebesar 32% , hal itu terlihat pada wanita usia 50-69 tahun yang merokok. Mereka memiliki tingkat faktor rheumatoid sebesar 100 IU / mL atau lebih.
Nilai mutlak terendah selama 10 tahun risiko untuk mengalami rheumatoid arthritis sebesar 0,1%. Hal itu terlihat pada pria berusia 70 tahun ke atas dengan tingkat faktor rheumatoid kurang dari 25 IU / mL.
Peneliti menekankan bahwa studi mereka tidak dapat menunjukan bahwa faktor rheumatoid memainkan tugas kausal dalam perkembangan rheumatoid arthritis. Namun mereka menyimpulkan bahwa temuan ini dapat diajadikan sebagai fatwa revisi acuan awal untuk rheumatologist dan perawatan gejala arthritis awal yang didasarkan pada tes aktual faktor rheumatoid, bahkan tanpa adanya gejala yang khas berupa rematik sendi.”
Dr. Simard dari Karolinska Institutet di Swedia menyampaikan bahwa meskipun penelitian Nielsen memantau orang dengan hasil aktual faktor rheumatoid, isu ini mungkin belum begitu berkhasiat dalam praktek klinis, alasannya pada pengujian faktor rheumatoid jarang terjadi ketiadaan tanda-tanda atau gejala. Simard menyarankan, bahwa penelitian di masa yang akan datang harus fokus pada relasi antara faktor arthritis dan rheumatoid arthritis serta memperluas penelitian kepada auto-antibodi penting lainnya menyerupai anti-citrullinated yang merupakan antibodi protein.
Referensi Jurnal :
  1. S. F. Nielsen, S. E. Bojesen, P. Schnohr, B. G. Nordestgaard. Elevated rheumatoid factor and long term risk of rheumatoid arthritis: a prospective cohort study. BMJ, 2012; 345 (sep06 2): e5244 DOI: 10.1136/bmj.e5244
  2. J. F. Simard, M. Holmqvist. Rheumatoid factor positivity in the general population. BMJ, 2012; 345 (sep06 2): e5841 DOI: 10.1136/bmj.e5841
Artikel ini merupakan terjemahan dari goresan pena ulang berdasarkan bahan yang disediakan oleh BMJ-British Medical Journal via Science Daily (6 September 2012). Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.


Sumber http://www.nafiun.com/