Surat Terbuka dari Guru Untuk Mendikbud Muhadjir Effendy

Sudah baca apa isi Surat Terbuka dari Guru (Heri Santoso) Untuk menteri pendidikan dan kebudayaan yang gres bapak Muhadjir Effendy? kalau belum, maka akan admin postingkan secara lengkap melalui blog ini biar semua tahu ternyata media umum mampu juga dimanfaatkan untuk membuatkan informasi bermanfaat dan gosip ini bukan menyerupai isu tempo hari ihwal “resonansi finansial“. Nah dari sana kita mendapat pelajaran gres bahwa kita harus lebih cermat lagi dalam menyaring info-info yang beredar di Medos atau website kecuali situs yang benar-benar membuatkan gosip akurat berdasarkan sumber terpercaya menyerupai jpnn.com, detik.com dan sebagainya.

Adapun kembali ketopik yang akan admin bahas pada postingan ini, maka pribadi saja blog guru-id tuliskan surat dari bapak Heri Santoso untuk mendikbud yang baru. ia mengirimkannya melalui postingan ke salah satu grup facebook. Nam grupnya “forum guru Indonesia”. Nah surat tersebut ternyata banyak yang mendukung curahan hati bapak Heri Santoso, S.Pd. Yuk pribadi saja baca suratnya

gambar surat Terbuka dari Guru

Assallamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Bapak Menteri, perkenalkan nama saya Heri Santoso, S.Pd ; seorang guru dengan peran pelengkap sabagai kepala sekolah di SDN Sumberasri 04 Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar Provinsi Jawa Timur.

Bapak Menteri yang saya hormati ; pertama-tama perkenankan saya mengucapkan Selamat atas pelantikan Bapak sebagai Mendikbud yang gres di Kabinet Kerja Jokowi – JK.

Sungguh, bukan suatu kebetulan Bapak terpilih dan ditunjuk oleh Bpk Presiden sebagai Mendikbud, tetapi memang kapabilitas dan elektabilitas Bapak tidak mampu diragukan lagi, untuk memimpin kementerian yg “carut marut” ini.

Mengapa saya katakan carut marut ? Paling tidak ada 5 indikasi yang menjadi alasan riel dari image tersebut..

1. Tentang kualitas dan kuantitas SDM keguruan kita masih sangat memprihatinkan.
Guru di Indonesia hampir semuanya sarjana. Bukan cuma guru PNS saja yg harus berijasah S1, GTT sekalipun HARUS S1. Nah, hal inilah yg pada gilirannya menghadirkan ironisme tak ubahnya “lelucon panggung sandiwara”. Betapa tidak, semua harus sarjana tapi dulunya dengan biaya sekolah sendiri-sendiri. Ini hanya terjadi di Indonesia.

Sebab, kalau seorang telah mengabdi sebagai PNS untuk meningkatkan pengetahuan dalam pendidikan formalnya yaitu tanggung jawab pemerintah. Untuk itu Bapak Menteri harus berterima kasih pada kami semua guru yg telah berpartisipasi secara pribadi demi peningkatkan profesionalitasnya tanpa melibatkan pembiayaan dari pemerintah lewat Tugas Belajar.

2. Keprihatinan yang lain yaitu untuk menjadi GTT pun harus berijasah sarjana pula.
Ini yg kurang mampu dinalar budi sehat. Mengapa demikian ? Untuk mempekerjakan tenaga sarjana TANPA DILINDUNGI OLEH SISTEM KEPEGAWAIAN YG JELAS DAN SISTEM PENGGAJIAN YG TETAP. Akibatnya, GTT di Indonesia (maaf) masih LEBIH BERHARGA ORANG UTAN DI KEBON BINATANG YG PUNYA.KEJELASAN ANGGARAN MAKAN DAN MINUMNYA SERTA UNDANG-UNDANG TENTANG PERLINDUNGANNYA.

Di sisi lain, mungkin Bapak Menteri sudah lebih tahu kalau Indonesia SANGAT KEKURANGAN GURU. Dan demi terpenuhi target kurikulum, alhasil mempekerjakan GTT.

Wajar kalau GTT identik dg Guru PNS meski gajinya tidak identik. Rata-rata tiap bulan seorang GTT di Indonesia hanya berhonorarium sekitar Rp 100.000,- Akan tetapi mereka dg tulus untuk mengatakan PENGABDIAN SEBAGAI PAHLAWAN TANPA TANDA JASA.

Saya tidak oke dengan sebutan TANPA TANDA JASA !! Sebab sebutan itu nenjadi konyol dan fatal. Tanpa digaji pun siap mengabdi. Ini terperinci tidak sinkron dg predikat GURU PROFESIONAL.

3. Masih ihwal tradisi carut marut di institusi pendidikan kita.
Bapak Menteri harus mampu merentang ihwal BENANG KUSUT KURIKULUM. Kita sudah terlalu kusut dengan kurikulum dari waktu ke waktu yg terus bermasalah.

Puncaknya di kala sekarang setelah diberlakukan diberlakukan 2 (dua) jenis kurikulum KTSP dan K-13. Sungguh ironis, di dunia ini hanya terjadi di Indonesia. Untuk itu mohon Bapak Menteri segera membenahi benang kusut tersebut.

4. Tentang Tunjanganp Profesi Guru yg biasa disebut TPG atau TPP. 
Bapak Menteri tentu masih ingat awal mula lahirnya TPP alasannya yaitu Bapak termasuk anggota tim perumus. Ruh yg menjiwai TPP bukankah dulu UNTUK MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN pendidik.

Tapi sekarang telah JAUH BERGESER yaitu sebagai variabel pengukuran kinerja guru. Ironis luar biasa. Bahkan ada yg over acting MEMBREDEL TPP hanya alasannya yaitu TIDAK MASUK selama 3 hari, melaksanakan cuti hamil, umroh dan naik haji.

Sudah sangat menyimpang. Saya jadi heran, cuti hamil diatur oleh peraturan perundang-undangan kepegawaian secara sah. Akan tetapi di ketika ibu guru cuti hamil kok dibredel TPP-nya ?

Di ketika naik haji, bahkan ijin sakit dengan surat dokter sekalipun dibredel. Ini yg disebut presedent buruk dlm kementerian yg bapak pimpin., bahkan PELANGGARAN HAK ASASI.

5. Tentang pertolongan seorang kepala sekolah dasar ( SD), yg patut ditinjau kembali. 
Sebab besaran pertolongan tsb tdk relevan dg kinerja seorang pimpinan/direktur/manajer di lembaga satuan pendidikan yg jadi starting point pencerdasan bangsa.

Itulah Bapak Menteri Surat Terbuka saya. Saya tidak ingin jadi seorang pendekar untuk korps kami Guru Sekolah Dasar, tetapi sebagai makhluk yg punya etos dan dedikasi untuk mengabdi pada bangsa dan negara ini, yaitu wajar kalau membuat anjuran lewat surat terbuka di twitter milik Bapak.
Sekian terima kasih. SELAMAT BEKERJA.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Hormat penulis,
HERI SANTOSO, S.Pd
NIP. 19570926 197707 1 001
[31/7 13.25]

referensi: http://www.websitependidikan.com/