Sejarah Paham / Ideologi Liberalisme, Pengertian, Contoh, Tokoh

Artikel dan Makalah wacana Sejarah Paham / Ideologi Liberalisme, Pengertian, Contoh, Tokoh – Liberal berasal dari kata “liberty”, yang berarti kebebasan. Kebebasan dalam arti kemerdekaan pribadi, hak untuk menerima perlindungan, dan kebebasan dalam menentukan sikap. Liberalisme yaitu suatu pedoman pemikiran yang mengharapkan kemajuan dalam banyak sekali bidang atas dasar kebebasan individu yang dapat membuatkan bakat dan kemampuannya sebebas mungkin. Istilah ini gres digunakan pada periode ke-19 dan berasal dari kaum pemberontak Spanyol yang menamakan dirinya “liberalisme”, kendatipun liberalisme bahu-membahu telah berkembang pada masa sebelumnya. (Baca juga : Perkembangan Ideologi Baru dan Pengaruhnya Terhadap Kesadaran dan Pergerakan Nasionalisme di Indonesia)
Liberalisme telah dimulai semenjak era Renaissance, yang memperjuangkan kebebasan insan dari dominasi gereja atau agama, politik dan ekonomi. Kebebasan dalam bidang politik melahirkan konsep wacana negara yang demokratis. Dalam bidang ekonomi, liberalisme menentang campur tangan pemerintah yang terlalu banyak dalam usaha, sebisa mungkin peranan swasta diutamakan.
Berdasarkan pada kepercayaan bahwa semua sumber kemajuan terletak dalam perkembangan eksklusif insan yang bebas. Aliran ini memperjuangkan kedaulatan rakyat dan kebebasan individu terhadap banyak sekali bentuk kekuasaan mutlak. Langkah pertama perjuangannya telah dilakukan oleh gerakan reformasi. Dalam periode ke-17 dan 18 timbul perlawanan terhadap absolutisme dan perjuangan menuju kebebasan jiwa dan bernegara. Tokoh liberalisme antara lain John Locke, Voltaire, Montequieu, J.J. Rousseau. Sementara itu tokoh-tokoh liberalisme dalam bidang ekonomi yaitu Adam Smith, David Ricardo, dan Robert Malthus.
Beberapa tokoh yang bisa dianggap sebagai penganut dan yang membuatkan paham liberalisme, yaitu:
(a) John Locke. Menurut pendapatnya, negara terbentuk dari perjanjiann sosial antara individu dengan yang hidup bebas dengan penguasa.
(b) Montesquieu. Dalam bukunya spirit the law, terdapat pemisahan kekuasaan dalam pemerintahan yaitu eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Tujuannya semoga terdapat pengawasan antar lembaga semoga tidak terjadi penyalahgunaan wewenang.
Pemerintahan Inggris telah menerapkan paham liberalisme, yaitu dalam Magna Charta tahun 1215, wacana penjaminan hak individu oleh hukum. Dalam peristiwa Revolusi Prancis tahun 1789, berhasil menjatuhkan monarki sewenang-wenang dan digantikan dengan mendirikan negara liberal berdasarkan Konstitusi.
Liberalisme memperjuangkan pelbagai kebebasan yang hendaknya dijamin dalam undang-undang dasar, di antaranya kebebasan agama, kebebasan pers, kebebasan berkumpul dan menyatakan pendapat. Kebebasan yang diperjuangkan itu hanya terjamin dalam negara hukum yang mengindahkan Trias Politika.
Bentuk negara yang diidamkan yaitu demokrasi dewan legislatif dengan persamaan hak bagi seluruh rakyat di depan hukum dan penghormatan terhadap hak-hak asasi manusia. Cita-cita liberalisme telah mencetuskan Revolusi Industri di Inggris (1688), Revolusi Amerika (1776), dan Revolusi Prancis (1789).
Anda sekarang sudah mengetahui Liberalisme. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :

Suwito, T. 2009. Sejarah : Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Madrasah Aliyah (MA) Kelas XI. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 368.


Sumber http://www.nafiun.com/