Sejarah & Legenda Cheongsam / Qipao

Perpustakaan Cyber (1/3/2015) – Setiap negara memiliki ciri khas tersendiri yang membuat masyarakat negara lain akan mengenalnya dengan cara yang ditawarkan oleh negara itu sendiri. Pada umumnya, sebuah negara dikenal lewat pakaian khas negaranya. Pakaian merupakan salah satu cara paling mudah untuk mengenali sebuah negara. Akan tetapi, hanya negara yang memiliki pakaian yang unik saja yang mudah diingat, menyerupai negara Republik Rakyat Tiongkok. Pakaian tradisional masyarakat Tiong Hoa ini berupa sebuah gaun panjang yang melilit badan hingga ke leher. Sebutan yang paling sering dikenal oleh masyarakat pada umumnya ialah Cheongsam. Tak jarang pakaian tersebut juga dikenal dengan Qipao dalam Mandarin Tiong Hoa.pakaian ini biasanya berwarna merah menyala, dan penggunaannya di Indonesia akan marak ketika tiba perayaan tahun gres Imlek.
Seiring dengan perkembangan jaman dari satu dekade ke dekade berikutnya, Cheongsam atau Qipao telah mengalami perubahan yang kentara baik dalam bentuk maupun fungsinya dalam penggunaannya. Mari simak sedikit ulasan sejarah dan sedikit kisah di balik pakaian tradisional masyarakat Tiong Hoa ini.

•       Mengenal Cheongsam atau Qipao
Pakaian unik dari Tiongkok ini mulai digunakan oleh kaum aristokrat pada Dinasti Qing di tahun 1920. Bahan yang digunakan ketika itu ialah kain sutera, alasannya ialah hanya kaum aristokrat yang boleh mengenakannya. Bentuk Cheongsam atau Qipao ketika itu juga tidak menyerupai yang ada pada jaman sekarang. Awalnya jahitan pakaian ini tidak terlalu ketat, justru sangat longgar dan panjangnya bahkan mencapai ujung kaki, sehingga akan sedikit sulit untuk berjalan kalau tidak terbiasa.
Memasuki 1930, mulai ada kreasi yang menawan dari Cheongsam atau Qipao ini. Panjang pakaian tidak lagi hingga menyentuh tanah, namun ada yang membuatnya pendek, atau hingga tungkak kaki. Kerah yang sebelumnya menutupi leher juga mulai dihilangkan, alasannya ialah mengenakan Cheongsam atau Qipao pada animo panas akan terasa sangat gerah kalau tetap mempertahankan bentuknya yang sedemikian rupa. Pergeseran pengguna Cheongsam atau Qipao ini juga sudah mulai terjadi. Tidak hanya kaum aristokrat saja yang mengenakan pakaian ini, namun hampir seluruh wanita di negeri Tiongkok mulai menggunakannya. Perkembangan bentuk dan penggunaan Cheongsam atau Qipao terus menerus terjadi hingga pada tahun-tahun berikutnya.
•       Legenda Cheongsam atau Qipao
Masyarakat Tiong Hoa termasuk dalam golongan masyarakat yang masih percaya dengan legenda. Begitu pun yang terjadi dengan legenda di balik Cheongsam atau Qipao ini. Dipercaya bahwa dahulu kala ada seorang nelayan wanita muda yang hidup di area Danau Jingbo. Sebagai seorang nelayan, ia memiliki paras yang teramat cantik yang berkombinasi ahli dengan sifatnya yang rajin dan tenaganya yang berpengaruh menyerupai nelayan lelaki pada umumnya. Ada satu permasalahan yang terjadi ketika ia sedang melaut, yaitu pakaiannya yang panjang dan longgar, yang kerap kali mengganggu aktivitasnya tersebut. Berangkat dari alasan tersebut, kemudian ia mulai memikirkan pakaian yang jauh lebih praktis untuknya melaut. Maka sepulangnya ke rumah, ia mulai menjahit sebuah pakaian yang memiliki kantong di dalamnya yang dapat digunakan untuk memasukkan bab depan bajunya yang panjang, sehingga membuat pekerjaannya tidak terganggu.
Di bab kawasan lain di Tiongkok kala itu, ada seorang pangeran yang memimpikan ayahnya yang telah tiada. Beliau berujar padanya bahwa ia harus segera menemukan seorang nelayan wanita cantik di Danau Jingbo untuk diperistri. Keesokan harinya, pangeran itu bertolak ke Danau Jingbo dan dengan segera menemukan nelayan wanita tadi. Tak lama, nelayan wanita itu menjadi seorang ratu dengan tetap mengenakan pakaian yang ia jahit sendiri, yang kemudian dikenal dengan Cheongsam atau Qipao itu. Tidak perlu menunggu lama untuk kemudian para wanita lain di sana menjiplak gaya si nelayan cantik tersebut. Walaupun belum tentu benar, legenda ini masih saja diceritakan kepada anak cucu yang bertanya-tanya dari mana asal pakaian yang begitu rupawan itu.


Sumber http://www.nafiun.com/