Petunjuk Baru Penyebab Tumor Otak Pada Anak-Anak

Petunjuk Baru Penyebab Tumor Otak Pada Anak-Anak – Pemahaman terhadap kondisi genetik yang menimbulkan kanker otak dapat membantu para ilmuwan untuk lebih memahami jenis yang paling umum dari tumor otak pada anak-anak. Pada penelitian terbaru, para ilmuwan di Washington University School of Medicine di St Louis telah mengidentifikasi jalur pertumbuhan sel yang luar biasa aktif di dalam tumor otak pediatrik, atau dikenal sebagai glioma. Sebelumnya, mereka telah mengidentifikasi jalur pertumbuhan yang sama dan dianggap sebagai kontributor penting untuk pembentukan dan pertumbuhan tumor otak pada kasus neurofibromatosis-1 (NF1), yaitu sindrom kanker predisposisi yang biasanya diwariskan dari orang bau tanah ke anaknya.
“Temuan ini menunjukkan bahwa peralatan yang kami miliki telah berkembang secara pesat untuk mendiagnosa dan mengobati NF1. Kami berharap hal ini juga dapat membantu pengobatan tumor otak yang berkembang sporadis,” kata David H. Gutmann MD, PhD, peneliti senior yang juga Profesor Neurologi di Donald O. Schnuck Family. Temuan akan diterbitkan pada 1 Desember jurnal di Genes and Development.

NF1 yakni salah satu sindrom predisposisi tumor yang paling umum, tetapi menyumbang hanya sekitar 15 persen dari glioma level rendah pediatrik, atau dikenal sebagai astrocytomas pilocytic. Sebagian besar tumor otak terjadi secara sporadis pada orang tanpa mengalami NF1.
Petunjuk Baru Penyebab Tumor Otak Pada Anak Petunjuk Baru Penyebab Tumor Otak Pada Anak-Anak
Otak tikus. Protein BRAF versi gila (warna merah) pada otak tikus yang mengalami tumor otak level rendah. Para ilmuwan menunjukkan bahwa pada sel-sel tertentu, protein ini dapat menimbulkan terjadinya pembelahan sel secara lebih cepat sehingga memicu pembentukan tumor. (Credit: David Gutmann, MD, PhD)
Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa sebagian besar astrocytomas pilocytic sporadis merupakan bentuk gila dari protein pensinyal yang dikenal sebagai BRAF. Pada kasus sel tumor, sepotong protein mengalami kekeliruan pada proses peleburan (fusi) untuk membentuk BRAF.
Para ilmuwan mengira bahwa sel-sel protein yang mengalami proses fusi secara tidak normal akan mendorong sel ini tumbuh dan membelah dengan lebih sering sehingga mengarah pada pembentukan tumor. Namun, saat mereka memasukkan BRAF tidak normal ini ke tikus, para ilmuwan justru menerima banyak sekali macam hasil. Pada beberapa kasus terjadi pembentukan glioma. Namun, pada kasus lainnya, tidak ada pengaruh yang terlihat atau peningkatan pertumbuhan dan pembelahan sel hanya terjadi pada periode yang singkat. Pada penelitian lain, sel-sel justru menjadi bau tanah dan mati sebelum waktunya.
Sebelumnya, Gutmann, administrator Washington University Neurofibromatosis Center, telah menunjukkan bahwa glioma yang terkait NF1 pada tikus berasal dari sel-sel otak tertentu.
Menurut Gutmann, dampak dari fungsi gen NF1 yang gila pada jenis sel tertentu dapat membantu menjelaskan mengapa glioma paling sering ditemukan pada saraf optik dan batang otak bawah umur yang mengalami NF1. Area otak tersebut merupakan daerah dimana jenis sel rentan berada.
Bermodalkan pengetahuan tersebut, Gutmann dan rekan-rekannya menguji efek dari protein BRAF yang berfusi secara gila pada sel induk saraf dari otak kecil, area di mana astrocytomas pilocytic sporadis sering bentuk; dan sel-sel dari korteks, area di mana tumor hampir tidak pernah berkembang.
“BRAF gila hanya menghasilkan peningkatan pertumbuhan saat ditaruh pada sel induk saraf dari otak kecil, namun tidak pada sel korteks,” kata Gutmann. ”Kami juga menemukan bahwa menempatkan BRAF yang mengalami fusi ke dalam sel glial arif balig cukup akal dari otak kecil, ternyata tidak memperlihatkan pengaruh sama sekali.”
Ketika BRAF yang mengalami fusi menimbulkan proliferasi sel meningkat, Aparna Kaul, PhD dan Yi-Hsien Chen, PhD, menunjukkan bahwa hal ini diaktifkan oleh jalur pertumbuhan selular yang sama, atau biasa disebut mammalian target of rapamycin (mTOR). mTOR dikendalikan oleh protein NF1. Penelitian secara ekstensif mengenai jalur mTOR sudah dilakukan, termasuk pengobatan yang berpotensi untuk menekan fungsinya pada banyak sekali bentuk kanker.
“Kami mungkin dapat meningkatkan pemahaman dan hasil studi kami sebelumnya mengenai NF1. Hal ini akan memiliki kegunaan untuk meningkatkan pengobatan tumor otak pediatrik umum, dan itu sangat menarik,” kata Gutmann.
Saat ini, Gutmann dan rekan-rekannya melaksanakan studi untuk mengidentifikasi lebih banyak faktor yang membuat sel-sel otak tertentu rentan terhadap efek yang dihasilkan tumor akhir mutasi gen NF1 dan fusi BRAF. Mereka juga membuatkan hewan model bagi astrocytoma pilocytic sporadis dengan tujuan untuk menemukan dan menguji obat tumor otak.
Referensi Jurnal :
Kaul A, Chen Y-H, Emnett RJ, Dahiya S, Gutmann DH. Pediatric glioma-associated KIAA1549:BRAF expression regulates neuroglial cell growth in a cell type-specific and mTOR-dependent manner.. Genes & Development, Dec. 1, 2012
Artikel ini merupakan terjemahan dari bahan yang disediakan oleh Washington University School of Medicine via Science Daily (15 November 2012). Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.


Sumber http://www.nafiun.com/