Perubahan Iklim Dan Hilangnya Lapisan Ozon, Dapat Meningkatkan Risiko Kanker Kulit

Perubahan Iklim Dan Hilangnya Lapisan Ozon, Dapat Meningkatkan Risiko Kanker Kulit – Selama beberapa dekade, para ilmuwan telah mengetahui bahwa efek dari perubahan iklim global berpotensi merugikan seluruh dunia. Namun, dikala ini para peneliti dari Harvard menawarkan bukti bahwa perubahan iklim juga mungkin menawarkan dampak serius terhadap kesehatan masyarakat. Sebagaimana dilaporkan dalam sebuah makalah yang diterbitkan di Jurnal Science (27/7/2012) , tim peneliti yang dipimpin oleh James G. Anderson, dari Philip S. Weld Professor of Atmospheric Chemistry, memperingatkan bahwa perubahan iklim dan penipisan lapisan ozon dapat memungkinkan lebih banyak sinar ultraviolet (UV) untuk mencapai permukaan bumi. Hal ini dapat  menyebabkan meningkatnya kasus kanker kulit.
Menurut penjelasan Anderson dan timnya, uap air yang diinjeksikan ke stratosfer oleh angin ribut yang sangat berpengaruh dapat mengubah bentuk stabil klorin dan bromin menjadi radikal bebas yang bisa mengubah molekul ozon menjadi oksigen. “Penelitian terbaru menunjukkan bahwa jumlah dan intensitas angin ribut tersebut berkaitan bersahabat dengan perubahan iklim. Pada gilirannya, hal ini dapat mengakibatkan hilangnya ozon dalam jumlah yang lebih besar sehingga meningkatkan jumlah radiasi UV berbahaya yang mencapai permukaan bumi. Jika hal ini terjadi, maka berpotensi meningkatkan resiko kanker kulit.” Kata Anderson.
Perubahan Iklim Dan Hilangnya Lapisan Ozon Perubahan Iklim Dan Hilangnya Lapisan Ozon, Dapat Meningkatkan Risiko Kanker Kulit
Selama beberapa dekade, para ilmuwan telah mengetahui bahwa efek dari perubahan iklim global berpotensi merugikan seluruh dunia. Namun, dikala ini para peneliti dari Harvard menawarkan bukti bahwa perubahan iklim juga mungkin menawarkan dampak serius terhadap kesehatan masyarakat. (Credit: © Wissmann Desain / Fotolia)
“Jika anda bertanya kepada saya mengenai seberapa besar pengaruh fenomena tersebut terhadap kanker kulit? Maka saya menjawab bahwa pengaruhnya sangat besar. Bagaimana cara menjelaskannya? Perubahan iklim yang disertai dengan penipisan dan hilangnya lapisan ozon akan berkaitan eksklusif dengan kanker kulit akhir lebih banyak radiasi ultraviolet yang dapat menembus atmosfer. Namun, kita belum mengetahui bagaimana perkembangan proses ini dari waktu ke waktu alasannya yaitu kami belum melaksanakan pengukuran mengenai seberapa besar konvertif injeksi air ke stratosfer dari masa lalu sampai sekarang.” Tambah Anderson.
Anderson juga menjelaskan bahwa petunjuk terbaik untuk mengetahui evolusi fenomena ini yaitu dengan cara melihat penelitian sebelumnya yang menghubungkan perubahan iklim dengan intensitas dan frekuensi angin ribut yang berkekuatan besar. Cara ini dapat menawarkan penjelasan bahwa ada kasus ilmiah yang berkembang dimana penambahan kadar karbondioksida di atmosfer akan meningkatkan perubahan iklim dan pada gilirannya mendorong intensitas dan fekuensi badai.
“Meskipun tidak mungkin untuk mengetahui berapa banyak kasus kanker kulit yang mungkin berafiliasi dengan penipisan ozon di atas AS, namun kekerabatan antara hilangnya ozon dan peningkatan insiden penyakit ini telah diteliti secara luas,” kata Anderson.
“Masyarakat medis telah melaksanakan upaya untuk menentukan kekerabatan antara penipisan lapisan ozon dengan peningkatan kasus kanker kulit. Hasilnya memang terdapat peningkatan kejadian kanker kulit gres sebanyak 1 juta kasus setiap tahunnya di AS.
Efek radiasi UV tidak hanya dialami oleh manusia, namun juga tanaman. Menurut Anderson, tanaman pokok untuk konsumsi manusia, menyerupai jagung, kedelai dan gandum, akan dapat mengalami kerusakan DNA.
Ironisnya, penemuan bahwa perubahan iklim dapat memicu hilangnya ozon, terjadi secara kebetulan.
Meskipun Anderson dan timnya sudah melaksanakan melakukan penyelidikan mengenai penipisan ozon di kutub utara dan Antartika semenjak pertengahan tahun 1980-an, Namun mereka gres mengalihkan perhatiannya ke studi iklim semenjak awal tahun 2000-an. Secara khusus mereka bekerja untuk memahami wacana awan konvertif, yaitu gerakan udara vertical yang mengakibatkan tejadinya angin ribut yang menjulang tinggi ke langit. Awan konvertif ini berkontribusi menciptakan awan cirrus.
“Mekanisme tersebut secara tidak terduga telah kami dapatkan melalui pengamatan. Ternyata, awan konvertif dalam sistem angin ribut di seluruh AS telah menjangkau lebih dalam stratosfer. Hal ini di luar perkiraan kami.” Kata Anderson.
Sementara itu, penelitian sebelumnya yang dilakukan di Artik telah menunjukkan bahwa uap air merupakan komponen kunci dalam menciptakan radikal bebas yang memecah senyawa ozon. Namun, temuan terbaru menunjukkan bahwa proses tersebut hanya dapat terjadi pada suhu yang jauh lebih tinggi dari yang diduga sebelumnya.
“Intinya yaitu bahwa jikalau anda meningkatkan konsentrasi uap air, bekerjsama anda juga telah meningkatkan suhu ambang batas terjadinya konversi kimia, yaitu bentuk-bentuk stabil klorin akan berubah bentuk menjadi radikal bebas. Jika jumlah uap air dan suhu di atas Amerika Serikat memenuhi syarat untuk terjadinya konversi secara cepat dari klorin anorganik menjadi radikal bebas, maka akan ada duduk perkara serius. Karena secara kimia, hal ini identik dengan kejadian yang sedang berlangsung di atas kutub utara.” Kata Anderson.
Hal yang mengejutkan lagi yaitu bahwa proses penguapan air ke lapisan atmosfer yang tinggi, ternyata tidak harus memerlukan dorongan dari angin ribut yang berkekuatan sangat besar.
“Kami memiliki ratusan pengukuran di seluruh dunia yang menangani struktur pengendalian fotokimia ozon. Namun, pengukuran ini hanya terbatas di atas Amerika Serikat selama trend panas. Dari pengukuran yang dilakukan dengan penerbangan tersebut, kami mempelajari rata-rata angin ribut di sepanjang barat tengah. Kami telah melaksanakan pengamatan di Amerika Serikat sebanyak 20 kali. Sekitar 50 % pengamatan yang kami lakukan telah menunjukkan adanya penetrasi uap air ke stratosfer” kata Anderson.
Langkah selanjutnya penelitian ini yaitu melaksanakan serangkaian tes untuk mengkonfirmasi apakah bentuk radikal bebas klorin dan bromin yang terdapat di stratosfer dapat meningkatkan eksistensi uap air yang diijeksikan secara konfektif dalam jumlah yang signifikan.
“Dalam pikiran saya, ini bukan hanya duduk perkara kesehatan masyarakat luas. Hal ini yaitu wacana bagaimana cara supaya kita terhindar dari radiasi UV. Kita tidak tahu seberapa cepat frekuensi dan intensitas angin ribut tersebut akan meningkat. Jadi, kami tidak menempatkan skala waktu pada duduk perkara ini. Namun, duduk perkara intinya cukup mudah dan sederhana alasannya yaitu kami telah memahaminya secara kimia.” Tambah Anderson.
Terima kasih atas kunjungan anda, supaya artikel ini bermanfaat. Mohon berikan perlindungan kepada kami dengan cara like, follow dan share melalui facebook, twitter, atau google +.
Referensi Jurnal :
James G. Anderson, David M. Wilmouth, Jessica B. Smith, and David S. Sayres. UV Dosage Levels in Summer: Increased Risk of Ozone Loss from Convectively Injected Water Vapor. Science, 26 July 2012 DOI: 10.1126/science.1222978
Artikel ini merupakan terjemahan dari goresan pena ulang berdasarkan materi yang disediakan oleh Harvard University, via EurekAlert! dan Science Daily. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.


Sumber http://www.nafiun.com/