Peristiwa Penculikan Letjen. Ahmad Yani


Gerombolan penculik G-30-S/PKI pimpinan Mukidjan hingga di Jalan Lembang D 58 pada jam 04.00 pagi. Suasana masih sepi. Air Kali Malang di bawah sana mengalir dengan tenang. Ibu Yani tidak ada di situ. Hari itu ialah hari ulang tahun Ibu Yani. Karenanya dia mengasingkan diri di rumah dinas Pangad Jalan Suropati. Merenungkan apa yang mampu dan masih harus dikerjakannya demi kebahagian keluarga, demi membantu peran sang suami. Malam itu tamu yang terakhir meninggalkan rumah Pak Yani ialah sekitar jam 11.00 malam. Seperti halnya Jenderal Nasution, Pak Yani sering mendapatkan tamu di rumah di luar jam kerja. Salah satu di antara tamunya malam itu, telepon sering berdering dan tanpa ada prasangka memang sering diganggu orang. Melalui telepon selalu terdengar bunyi laki-laki menanyakan waktu.
Eddy, putra Jenderal Yani yang terkecil, bangkit kira-kira jam 04.00 dan minta keluar untuk mencari Ibu bersama Mbo Milah. Di luar dilihatnya aneka macam anggota Cakrabirawa. Tiba-tiba salah seorang di antara mereka menanyakan kepada Eddy wacana ayahnya. Sesudah diketahui bahwa Pak Yani ada di rumah, anaknya disuruh membangungkannya dengan mengatakan Bapak dipanggil Presiden.
Eddy masuk ke dalam, membangunkan ayahnya. Pak Yani keluar masih mengenakan piyama biru. Kemudian Raswad mengatakan bahwa Jenderal dipanggil Presiden. Pak Yani menyanggupinya dan akan mandi dulu; tetapi Tumiran tiba-tiba mengatakan tidak perlu alasannya ialah di Istana juga ada kamar mandi. Karena itu Pak Yani hanya akan mencuci muka. Salah seorang anggota Cakra, Dokrin, tiba-tiba membentak mengatakan: “Tidak perlu”. Pak Yani marah dan ditempelengnya Dokrin hingga jatuh. Ia segera menutup pintu belakang yang menghubungkan ruangan belakang dengan ruangan muka. Raswad segera member kode kepada Gijadi. Thompson Gijadi menyalak. Lima butir peluru meluncur menembus beling pintu, singgah di punggung Pak Yani. Ia terjatuh sambil memandang Untung anaknya. Tangannya menggapai. Untung bergerak hendak memeluk ayahnya, tetapi gerombolan penculik melarangnya. Eddy dan Untung menangis. Kakak-kakannya berlompatan dari dalam kamar. Tubuh Jenderal berbintang tiga ini diseret oleh tangan penuh dosa gerombolan PKI Sugija, Dokrin, dan Tumiran sepanjang lorong belakang. Darah membekas di lantai hingga ke halaman. Jenderal Yani mengerang. Beberapa kali terbentur lantai. Di luar ia disambut oleh gerombolan Pemuda Rakyat. Digotong dan dilemparkan ke trap bus Ikarus yang menanti. Anak-anaknya menangis memanggil bapaknya.
Beberapa laras senjata tertuju kepada mereka. Mereka berhenti. “Ayo masuk semua. Nanti kutembak kalian,” teriak gerombolan tak berprikemanusian itu. Mereka masuk. Ketakutan. Formasi kendaraan bergerak, meninggalkan ceceran darah di sana-sini, darah sang perwira TNI yang taat membela negara, bangsa dan Pancasila.
Pukul 05.00 pagi Ibu Yani kembali ke JalanLembang. Ia melihat sambil keheranan kepada anak-anaknya yang bangun. Sambil menunjuk-nunjuk ke ruang belakang dan ke jalan, Emmy, Ruly bercerita kepada Ibu. Mata mereka semuanya basah. Eddy dan Untung belum berhenti menangis. Ibu tergopoh-gopoh memeriksa ceceran darah. Ibu Yani jatuh pingsan. Hati-hati ia diangkat belum dewasa ke kamar. Di daerah tidur terdapat kacamata bapak dan foto-foto ibu. Anak-anak bersembahyang, Ibu sadar kembali dan keluar.
“Teruslah sembahyang,” katanya di sela-sela tangisannya mengambil baju Bapak. Dibersihkannya darah di lantai, disapukannya di muka. Hatinya hancur, ia pingsan lagi. Anak-anak berdoa.

Sumber: Monumen Pancasila Cakti hal. 110-112