Makan Daging, Faktor Kunci Penyebaran Spesies Manusia Di Muka Bumi

Makan Daging, Faktor Kunci Penyebaran Spesies Manusia Di Muka Bumi – Sifat karnivora merupakan kunci keberhasilan evolusi manusia. Ketika insan purba mulai memakan daging dan pada kesannya berburu, kualitas makanan yang lebih tinggi tersebut memungkinkan perempuan dapat menyapih belum dewasa mereka lebih awal. Perempuan kemudian mampu melahirkan belum dewasa yang lebih banyak selama masa reproduksi mereka, sehingga menjadi kontribusi kontribusi untuk penyebaran populasi insan secara bertahap di seluruh dunia. Hubungan antara makan daging dan proses menyapih yang lebih cepat  ini ditunjukkan oleh sebuah kelompok riset dari Lund University di Swedia, mereka membandingkan sampai hampir 70 spesies mamalia dan menemukan contoh yang jelas.
Belajar untuk berburu ialah langkah yang menentukan dalam evolusi manusia. Berburu membutuhkan adanya komunikasi, perencanaan dan penggunaan alat-alat, yang semuanya menuntut otak yang lebih besar. Pada ketika yang sama, menambahkan daging pada makanan dapat memungkinkan untuk menyebarkan otak yang lebih besar.
 Faktor Kunci Penyebaran Spesies Manusia Di Muka Bumi Makan Daging, Faktor Kunci Penyebaran Spesies Manusia Di Muka Bumi
Lukisan berburu kuno yang dilukis pada gua di Santa Cruz, Patagoni, Argentina Selatan (Foto : iStockphoto/Pablo Caridad)
“Hal ini telah diketahui dalam jangka waktu yang lama, namun sebelumnya belum ada yang   menunjukkan kekerabatan besar lengan berkuasa antara makan daging dan durasi menyusui, yang merupakan bab penting dari teka-teki dalam hal ini. Makan daging memungkinkan periode menyusui dan  waktu antara kelahiran lebih singkat. Hal ini pasti memiliki dampak penting pada evolusi manusia, “kata Elia Psouni dari Lund University.
Elia Psouni  adalah seorang psikolog perkembangan, bersama dengan rekannya seorang neurofisiologi, Martin Garwicz (juga dari Lund University) dan spesialis genetika revolusioner, Axel Janke (saat ini di Frankfurt namun sebelumnya di Lund University) menerbitkan temuannya di jurnal PLoS ONE.
Di antara masyarakat alami yang subur, durasi rata-rata menyusui ialah 2 tahun dan 4 bulan. Hal tesebut  tidak banyak kaitannya dengan umur maksimum spesies kita, sekitar 120 tahun. Hal ini tersebut bahkan kurang jikalau dibandingkan dengan kerabat terdekat kita. Simpanse betina menyusui anak mereka selama 4-5 tahun, sedangkan umur maksimum untuk simpanse hanya 60 tahun.
Banyak peneliti telah mencoba menjelaskan periode menyusui yang relatif lebih pendek pada insan berdasarkan teori-teori sosial dan perilaku orangtua serta ukuran keluarga.Namun kelompok Lund kini telah menunjukkan bahwa insan gotong royong tidak berbeda dari mamalia lain sehubungan dengan waktu penyapihan. Jika Anda memasukkan perkembangan otak dan komposisi makanan ke dalam persamaan, ketika keturunan kita berhenti menyusu  justru cocok dengan contoh pada mamalia lain.
Ini ialah jenis model matematika yang Elia Psouni dan rekan-rekannya telah buat. Mereka memasukkan data pada hampir 70 spesies mamalia dari banyak sekali jenis ke dalam model (data berdasarkan pada ukuran otak dan diet/pola makan). Spesies yang 20 persen kandungan energy makanannya berasal dari daging dikategorikan sebagai karnivora. Model ini menunjukkan bahwa anak-nak dari semua spesies berhenti menyusu ketika otak mereka telah mencapai tahap perkembangan tertentu. Karnivora mempunyai makanan yang berkualitas tinggi sehingga dapat menyapih lebih awal dari herbivora dan omnivora.
Model tersebut juga menunjukkan bahwa insan tidak berbeda dari karnivora lainnya sehubungan dengan waktu penyapihan. Semua spesies karnivora, dari hewan kecil menyerupai musang, rakun, macan, paus pembunuh dan manusia, memiliki masa menyusui yang relatif singkat. Perbedaan antara insan dan monyet besar yang telah membingungkan para peneliti sebelumnya, tampaknya bergantung hanya pada fakta bahwa sebagai spesies kita ialah karnivora, sedangkan gorila, orangutan dan simpanse ialah herbivora atau omnivora.
Beberapa tahun yang lalu, kelompok dar Lund University menerbitkan sebuah studi yang terkenal mengenai titik dimana belum dewasa dari banyak sekali hewan mulai berjalan. Pada penelitian ini juga ditemukan contoh serupa antara spesies mamalia yang menyimpang dalam evolusi jutaan  tahun yang lalu. Sebuah tahap tertentu dalam perkembangan otak tampaknya menjadi waktu untuk mulai berjalan, terlepas dari apakah anda seorang landak, musang atau manusia.
“Manusia tampaknya sangat menyerupai dengan hewan lain, pernyataan ini tentu saja provokatif. Kami suka berpikir bahwa budaya merupakan aspek yang membuat kita berbeda sebagai spesies, tetapi ketika datang ketika untuk menyusui dan menyapih, tidak ada penjelasan sosial atau budaya yang diperlukan; untuk spesies kita secara keseluruhan itu ialah pertanyaan biologi sederhana. Faktor sosial dan budaya pasti menghipnotis variasi antara manusia,” kata Elia Psouni.
Elia Psouni secara berhati-hati menekankan bahwa hasil penelitian mereka berafiliasi dengan evolusi manusia. Penelitian ini ialah mengenai bagaimana “karnivora” dapat menunjukkan kontribusi pada spesies insan untuk menyebar di bumi dan tidak mengatakan apa-apa wacana apa yang kita harus makan atau tidak untuk ketika ini semoga memiliki contoh makan yang baik.
Referensi Jurnal :
Elia Psouni, Axel Janke, Martin Garwicz. Impact of Carnivory on Human Development and Evolution Revealed by a New Unifying Model of Weaning in Mammals. PLoS ONE, 2012; 7 (4): e32452 DOI: 10.1371/journal.pone.0032452
Artikel ini merupakan terjemahan dari goresan pena ulang berdasarkan bahan yang disediakan oleh Lund University, via AlphaGalileo dan Science Daily. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.


Sumber http://www.nafiun.com/