KEMENDIKBUD WACANAKAN 40 JAM KERJA GURU PER MINGGU BUKAN 40 JAM TATA MUKA PER MINGGU

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mewacanakan lama wajib bekerja bagi guru yakni delapan jam per hari atau 40 jam per minggu. “Bapak Menteri di beberapa pertemuan sudah memberikan bahwa guru harus bekerja delapan jam per hari atau 40 jam per minggu,” kata Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud, Sumarna Surapranata di Jakarta, Jumat (21/10).

Pria yang dekat disapa Pranata itu membantah perubahan jam bekerja guru berafiliasi dengan rencana penerapan full day school(belajar seharian) atau penguatan pendidikan abjad (PPK). Ia menjelaskan, tentang ini berkaitan dengan UU ASN dan ketenagakerjaan. Ia menjabarkan, dalam aturan itu menyebut, pegawai swasta bekerja 37 sampai 38 jam per minggu. Sementara PNS, mempunyai waktu kerja 40 jam per minggu.
Pranata menuturkan berdasarkan Pasal 35 Ayat (1) UU Nomor 14 Tentang Guru dan Dosen, terdapat lima peran utama guru, yakni, merencanakan, melakukan (mengajar), menilai, membimbing, dan peran suplemen lainnya. Sementara pada ayat (2) dalam regulasi itu menyebut, beban kerja itu yaitu 24 minimal dan maksimal 40 jam jam tatap muka.
Pranata mengatakan, untuk memenuhi tatap muka, sejumlah guru mencari jam mengajar ke sekolah lain. Sehingga, ia mengatakan, para guru hanya disibukkan dengan mengejar pemenuhan tatap muka. Hal ini berdampak pada terbengkalainya daerah peran lainnya.
Saat ini, Prana menuturkan, Kemendikbud membuat kebijakan kewajiban melakukan lima acara utama guru yang tercantum dalam ayat (1) Pasal 35 itu. Kemendikbud akan mewajibkan lima peran itu harus dilaksanakan sekolah selama delapan jam per hari atau 40 jam per minggu.
“Jangan lagi guru membawa pekerjaan sekolah ke rumah. Jangan lagi ada peran suplemen lainnya menyerupai mengundang orang tua/wali untuk membahas perkembangan anak diabaikan. Guru harus berkonsentrasi mendidik anak di sekolah dengan lima peran itu,” tutur Pranata.
Ia menyebut, contoh kerja delapan jam per hari atau 40 jam per pekan sangat cocok untuk pelaksanaan revolusi mental sesuai Nawacita. Hal tersebut merujuk pada cita-cita pendidikan abjad menjadi bab yang harus menjadi prioritas khusus di pendidikan dasar.

Saat ini, Pranata mengatakan, Kemendikbud tengah merinci kegiatan-kegiatan uraian dari lima peran pokok itu, khususnya untuk pendidikan karakter. “Baru wacana. Mungkin gres mampu dilaksanakan pada 2017. Kalau untuk SD dan SMP nantinya fokus pada penguatan pendidikan karakter. Kewajiban untuk semua guru yang sudah mendapatkan pertolongan profesi,” jelasnya. (republika)



Sumber http://ainamulyana.blogspot.com/