Dialog Interaktif Tentang Vaksin Palsu Terbaru

Hai sob, kali ini saya mau membuatkan artikel mengenai dialog interaktif perihal vaksin palsu yang sekarang ini tengah hangat dibicarakan oleh masyarakat, pasalnya duduk perkara ini cukup serius sebab menyangkut nasib para bayi korban vaksin palsu.

Nah sebelumnya bagi yang belum membaca artikel saya perihal penjelasan dialog interaktif beserta contohnya, silahkan sahabat mampu mampir dulu pada artikel tersebut. Oke kita tidak usah berlama-lama lagi, pribadi saja kita mulai pembahasan kali ini mengenai dialog interaktif perihal vaksin palsu.

Dialog Interaktif perihal Vaksin Palsu

Dialog Interaktif perihal Vaksin Palsu
Untuk dialog ini sendiri sebelumnya sudah pernah saya berikan pada bahan sebelumnya, tapi sebab topik ini ternyata banyak yang mencari, maka tidak ada salahnya untuk saya membuatkan contoh teks dialog interaktif di TV itu di artikel ini. Bagi yang ingin membaca rujukan lainnya mampu melalui link tadi.
Nama Acara    : Berita Satu
Tanggal           : 27 Juni 2016
Pewawancara  : Varelina Daniel
Narasumber    : Komisi IX DPR, Okky Asokawati
Tema              : Vaksin Palsu
Dialog :
VD : “Kalau melihat responnya semua harus cepat ditindaklanjuti sebab cukup dirasakan membuat masyarakat menjadi gundah dan berbahaya, nah bersama-sama dari komisi 9 dengan adanya himbauan untuk segera melaksanakan tindak lanjut terhadap tubuh POM apa yang harus dilakukan kedepan?
OA : “Terkait dengan tubuh POM kami melihat memang tubuh POM tidak memiliki gigi dalam melaksanakan kinerjanya. Misalnya kita sering melihat bagaimana tubuh pom berhasil menemukan produk2 makanan dan obat2 illegal, tetapi sejauh itu tubuh pom tidak mampu memperlihatkan sanksi sebab tidak memiliki wewenang, kesudahannya apabila temuan2 tersebut ditemukan oleh tubuh pom maka diberikannya kepada kejaksaan atau kepolisian, dilain sisi kepolisian atau kejaksaan sudah mempunyai isu2 yang menurut mereka itu lebih berat sehingga kadang kala duduk perkara temuan tubuh pom ini di P21 kan itu yang pertama, artinya tubuh pom disini tidak ada giginya. Untuk vaksin palsu ini kami melihat bahwa kinerja tubuh POM ini masih ibarat pemadam kebakaran, mana kala ada duduk perkara gres kemudian mereka melaksanakan tindakan, dan untuk ini juga kemenkes pun kecolongan sebab saat kita berbicara perihal peredaran obat itu harusnya ada CPOB (Cara Pembuatan Obat yang Baik dan Benar) dan CDOB (Cara Distribusi Obat yang Baik dan Benar). Untuk mampu melaksanakan atau memproduksi obat atau vaksin maka harus ada izin yang dikeluarkan oleh kemenkes, gres setelah itu didistribusikan lalu dites oleh tubuh POM. Vaksin palsu inikan ternyata sudah diproduksi semenjak 2003, artinya kemana pemerintah selama ini.
VD : “Selama ini dari DPR tidak pernah mendengar kasus ibarat ini?”
OA : “Tidak pernah, yang sering kami dengar beberapa balita setelah diberikan vaksin meninggal, itu yang kami soroti dan penjelasan dari menteri kesehatan mengatakan bahwa biasanya hal itu terjadi kalau balita yang bersangkutan ini panas tinggi atau sedang tidak sehat kemudian divaksin, tapi menurut saya benar juga, hanya memang kami tidak menelisik lebih jauh ajal bayi setelah vaksinasi ini.
VD : “Kalau sekarang sudah terjadi vaksin palsu, respon dari menkes mengatakan sebaiknya masyarakat dihimbau tenang, menurut Anda gimana?”
OA : “Rasanya kok empatik ya, maaf kalau saya katakan rasanya tidak memiliki empati, bagaimana mungkin masyarakat diminta untuk tidak khawatir. Beliau mengatakan gres 1% daripada penyebaran vaksin palsu, kalau kita menyimak ia mengatakan ini gres ia merasa itu bukan duduk perkara yang besar. Menurut saya pemerintah seharusnya memperlihatkan penguatan bahwa pemerintah akan melaksanakan pengawalan kemudian evaluasi dan juga pengetatan terhadap produksi2 vaksin dan ibu2 tetap semangat memperlihatkan vaksin untuk anaknya. Makara dengan komunikasi yang ibarat itu akan lebih baik menurut saya.”
VD : “Ada juga langkah dari pemerintah bahwa kalau masyarakat tidak yakin mampu dilakukan vaksin ulang, cukup tidak dengan ibarat itu?”
OA : “Saya rasa tidak mudah untuk vaksin ulang, sebab punya nggak mappingnya, anggota atau bayi mana yang menerima vaksin palsu kan tidak tahu. Menurut saya bukan begitu caranya terkait dengan vaksin ulang ini bahwa harus ada cara yang lebih intensif lagi.”
VD : “Jadi menurut Anda itu tidak konkrit ya menurut Anda?”
OA : “Iya”

Oke sob sekian, kalau masih kurang lengkap dan variatif silahkan cek artikel saya sebelumnya kumpulan rujukan teks dialog interaktif disana terdapat kumpulan rujukan yang lebih banyak.

Sekian artikel dari saya mengenai dialog interaktif perihal vaksin palsu, supaya bermanfaat ya.