Bakteri Komensal Membantu Manusia Melawan Virus

Bakteri Komensal Membantu Manusia Melawan Virus – Manusia bertubuh sehat memiliki kelompok besar mikroba yang hidup bersama di dalam tubuhnya (disebut kuman komensal). Mikroba ini terdiri dari beragam kuman dan mikrobia lainnya yang hidup di usus. Mikroba ini berperan sebagai mitra insan dan menawarkan keuntungan untuk membantu mencerna makanan, serta meningkatkan perkembangan sistem kekebalan tubuh. Studi terbaru yang diterbitkan secara online dalam jurnal Immunity, David Artis, PhD. (Profesor Mikrobiologi), dan Michael Abt, PhD, (seorang peneliti postdoctoral di laboratorium Artis), Perelman Sekolah Kedokteran Universitas Pennsylvania, menunjukkan bahwa pentingnya tugas kuman komensal dalam melawan nanah virus. Bakteri ini dapat ditemukan di jalan masuk pencernaan bahkan di kulit manusia.
“Berdasarkan penelitian yang telah kami lakukan dengan menggunakan objek tikus, kami menemukan bahwa sinyal yang berasal dari mikroba ini bermanfaat dalam meningkatkan respon kekebalan badan yang optimal terhadap eksperimen nanah virus yang dilakukan terhadap tikus,” kata Artis. “Peran kuman ini yang  membuat kita mempertimbangkan mikroba ini sebagai “saudara seperjuangan” kita dalam memerangi penyakit menular.” Artis juga seorang profesor Pathobiology di Penn Sekolah Kedokteran Hewan.
Bakteri Komensal Membantu Manusia Melawan Virus Bakteri Komensal Membantu Manusia Melawan Virus
Gambar diatas ialah paru-paru tikus yang mengalami peradangan. Warna hijau dan merah menunjukkan adanya Infiltrasi sel kekebalan tubuh. (Credit: Meera Nair, PhD, Michael Abt, PhD, David Artis, PhD; Perelman School of Medicine, UPenn)
Sinyal dari kuman komensal mensugesti perkembangan kekebalan sel badan dan kerentanan terhadap penyakit jawaban nanah atau inflamasi (peradangan yang muncul jawaban serangan kuman atau virus berbahaya). Komunitas mikroba komensal berkoloni melapisi  permukaan kulit, vagina, jalan masuk pernapasan atas, dan jalan masuk pencernaan mamalia. Komunitas ini terdiri dari bakteri, jamur, protozoa, dan virus. Komunitas mikroba terbesar dan paling beragam berada di usus.
Penelitian sebelumnya terhadap pasien menunjukkan adanya relasi antara perubahan komunitas kuman dengan kerentanan terhadap diabetes, obesitas, kanker, penyakit radang usus, alergi, dan gangguan lain. Walaupun, info mengenai hal ini telah diketahui, namun bagaimana mekanisme kuman komensal ini mensugesti sel kekebalan badan setelah terkena patogen belum dipahami dengan baik.
Untuk menerima gambaran lebih baik ihwal bagaimana kuman yang tinggal dalam badan insan memiliki bermanfaat, maka Artis menggunakann beberapa macam penelitian di laboratoriumnya. Mereka menguji tikus yang diberi antibiotik untuk mengurangi jumlah kuman komensal. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa tikus yang diberi antibiotik mengalami gangguan respon kekebalan terhadap serangan virus. Gangguan ini berupa keterlambatan respon kekebalan badan  dalam menanggapi nanah virus atau virus influenza yang menginfeksi jalan masuk pernafasan. Selain itu, tikus yang diobati telah mengalami kerusakan jalan masuk pernafasan yang cukup parah. Kondisi ini yang menjadikan terjadinya peningkatan tingkat maut jawaban nanah virus influenza yang diujikan. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa perubahan komunitas kuman komensal memiliki dampak negatif pada kekebalan terhadap serangan virus.
Selanjutnya, gen tikus ini dipelajari untuk mengetahui ekspresi gen yang terkait dengan kekebalan tubuh. Hasilnya menunjukkan bahwa gen yang diekspresikan oleh sel-sel kekebalan badan ialah makrofag. Makrofag ini diisolasi dari tikus yang diberi antibiotik. Data ini mengungkapkan bahwa penurunan komunitas kuman komensal menjadikan terjadinya penurunan ekspresi gen yang terkait dengan kekebalan antivirus. Selain itu, makrofag dari tikus yang diberi antibiotik menunjukkan kerusakan. Kerusakan ini merupakan tanggapan terhadap interferon (yaitu kawasan dimana protein dibuat dan dilepaskan) dalam menanggapi serangan virus, bakteri, parasit, atau sel tumor. Dalam keadaan normal, interferon memfasilitasi komunikasi antara sel-sel untuk memicu sel-sel kekebalan yang menyerang patogen atau tumor. Tikus yang diberi antibiotik juga mengalami penurunan kemampuan untuk membatasi replikasi virus. Namun, saat tikus diobati dengan senyawa yang bisa bereaksi memulihkan interferon, kekebalan pelindungan terhadap  virus terbentuk kembali.
“Sungguh luar biasa bahwa sinyal berasal dari satu jenis mikroba, dalam kasus ini ialah bakteri. Sinyal ini memiliki pengaruh penting terhadap respon kekebalan badan terhadap serangan virus. Dimana, virus ini memiliki huruf dan sifat yang sangat berbeda dari mikroba,” kata Abt penulis pertama. “Sama ibarat kita akan mengatur termostat untuk mengatur saat pemanas seharusnya hidup. Studi kami menunjukkan bahwa sinyal yang berasal dari kuman komensal dibutuhkan untuk mengatur aktivasi sistem kekebalan tubuh.”
Secara keseluruhan, bukti menunjukkan bahwa sinyal dari kuman komensal menguntungkan dalam merangsang sel-sel kekebalan badan dengan cara yang optimal untuk kekebalan antivirus. “Meskipun lebih banyak pekerjaan yang harus dilakukan, temuan ini bisa menjelaskan cara-cara gres untuk meningkatkan kekebalan yang lebih baik terhadap nanah virus yang berpotensi mengancam nyawa,” tambah Artis.
Penelitian ini didukung oleh National Institutes of Health National Institute of Allergy and Infectious Disease (grants AI061570, AI087990, AI074878, AI095608, AI091759, AI095466, AI071309, AI078897, AI095608, AI083022, AI077098, HHSN266200500030C, T32-AI05528, T32-AI007532, T32-RR007063, K08-DK093784, T32-AI007324); the Irvington Institute Postdoctoral Fellowship of the Cancer Research Institute; the Burroughs Wellcome Fund, the National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Disease Center for the Molecular Studies in Digestive and Liver Disease and the Molecular Pathology and Imaging Core.
Terima kasih atas kunjungan anda, biar artikel ini bermanfaat. Mohon berikan tunjangan kepada kami dengan cara like, follow dan share melalui facebook, twitter, atau google +.
Referensi Jurnal :
Michael C. Abt, Lisa C. Osborne, Laurel A. Monticelli, Travis A. Doering, Theresa Alenghat, Gregory F. Sonnenberg, Michael A. Paley, Marcelo Antenus, Katie L. Williams, Jan Erikson, E. John Wherry, David Artis.Commensal Bacteria Calibrate the Activation Threshold of Innate Antiviral Immunity. Immunity, 2012; DOI: 10.1016/j.immuni.2012.04.011
Artikel ini merupakan terjemahan dari goresan pena ulang berdasarkan materi yang disediakan oleh Perelman School of Medicine at the University of Pennsylvania, via dan Science Daily (18 Juli 2012). Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.


Sumber http://www.nafiun.com/