Bagaimana Cara Antibiotik Alami Membunuh Bakteri Tuberkulosis ?

Bagaimana Cara Antibiotik Alami Membunuh Bakteri Tuberkulosis ? Sebuah produk alami yang disekresikan oleh basil tanah telah memperlihatkan potensi sebagai obat gres untuk mengobati tuberkulosis (TB). Para ilmuwan telah melaporkan temuan ini pada studi terbaru yang dipublikan di jurnal EMBO Molecular Medicine. Tim ilmuwan yang melaksanakan penelitian di Swiss telah memperlihatkan bagaimana kinerja dari pyridomycin, yaitu antibiotik alami yang diproduksi oleh basil Dactylosporangium fulvum. Pyridomycin ini dapat menjadi obat yang menjanjikan alasannya ialah produk ini aktif terhadap banyak basil tuberkulosis yang resisten terhadap obat. Saat ini, basil tersebut sudah kebal terhadap pengobatan menggunakan bat isoniazid.

“Alam dan evolusi telah melengkapi beberapa basil dengan mekanisme pertahanan yang ampuh untuk melindungi mereka terhadap musuh yang ada di habitanya. Screening produk alami terhadap antibiotik yang dihasilkan oleh organism tersebut merupakan cara yang ampuh untuk menemukan obat gres yang mungkin dapat melawan penyakit menular. Melalui pendekatan ini, kami telah memperlihatkan bahwa antibiotik alami, yaitu pyridomycin, merupakan pembunuh yang sangat selektif terhadap Mycobacterium tuberculosis. M. tuberculosis merupakan basil yang bertanggung jawab sebagai penyebab TB pada manusia. Antibiotik tersebut juga aktif terhadap Mycobacterium yang telah menyebarkan kemampuan resistensinya terhadap obat menyerupai isoniazid, dimana obat ini merupakan obat utama untuk mengatasi TB.” Kata Steward Cole, anggota EMBO dan professor di École Polytechnique Fédérale de Lausanne (EPFL), Swis.
Bagaimana Cara Antibiotik Alami Membunuh Bakteri Tuberkulosis Bagaimana Cara Antibiotik Alami Membunuh Bakteri Tuberkulosis ?
Genom Mycobacterium tuberculosis. [Cole et al., 1998]
Tuberkulosis mengakibatkan maut sekitar 2 juta orang setiap tahunnya. Saat ini, kita sangat membutuhkan obat gres sejak efektivitas antibiotik yang tersedia telah menurun jawaban peningkatan prevalensi TB yang resisten terhadap obat. Obat yang paling efektif digunakan untuk mengobati tuberkulosis, misalnya isoniazid dan rifampicin, sering tidak efektif lagi.
Para peneliti telah mengidentifikasi protein, yaitu NADH-dependent enoyl (protein pembawa asil) reductase atau InhA, yang merupakan target utama sebagai antibiotic. NADH-dependent ialah kelompok kategori ini enzim yang menggunakan nikotinamida adenin dinukleotida (NAD + dan bentuk tereduksinya, NADH) di reaksi redoks. “Melalui pemilihan, isolasi dan sekuensing genom M. tuberculosis mutan yang resisten terhadap pyrydomycin, maka kami telah menemukan sebuah gen tunggal berjulukan Inha, dimana gen ini merupakan pembawa sifat resisten terhadap pyridomycin.” Kata Cole.
Sebelumnya, para peneliti telah mengetahui bahwa target dari obat TB yaitu isoniazid ialah gen inhA, dimana gen ini berfungsi untuk menghasilkan protein inhA. Pyridomycin dapat mengikat pocket yang sama pada enzim InhA menyerupai halnya isoniazid, namun lokasi dan sekuennya berbeda.
Para ilmuwan memperlihatkan bahwa perlakuan menggunakan pyridomycin terhadap basil hidup dapat memicu penipisan asam mycolik, yaitu asam lemak yang merupakan komponen penting pada dinding sel.
“Kami juga menemukan bahwa pyridomycin dapat membunuh Mycobacterium tuberculosis dengan cara menghambat InhA. Secara klinis, isolasi basil yang resisten terhadap obat isoniazid dapat meberikan kesempatan yang besar untuk menyebarkan puridomycin atau biro yang terkaiy untuk pengobatan TB yang resisten terhadap obat.” Ungkap Cole.
Referensi Jurnal :
  1. Ruben C. Hartkoorn, Claudia Sala, João Neres, Florence Pojer, Sophie Magnet, Raju Mukherjee, Swapna Uplekar, Stefanie Boy-Röttger, Karl-Heinz Altmann, Stewart T. Cole. Towards a new tuberculosis drug: pyridomycin – nature’s isoniazid. EMBO Molecular Medicine, 2012; DOI: 10.1002/emmm.201201689
  2. S. T. Cole; R. Brosch; J. Parkhill; T. Garnier; C. Churcher; D. Harris; S. V. Gordon; K. Eiglmeier; S. Gas; C. E. Barry; F. Tekaia; K. Badcock; D. Basham; D. Brown; T. Chillingworth; R. Connor; R. Davies; K. Devlin; T. Feltwell; S. Gentles; N. Hamlin; S. Holroyd; T. Hornsby; K. Jagels; A. Krogh; J. McLean; S. Moule; L. Murphy; K. Oliver; J. Osborne; M. A. Quail; M. A. Rajandream; J. Rogers; S. Rutter; K. Seeger; J. Skelton; R. Squares; S. Squares; J. E. Sulston; K. Taylor; S. Whitehead & B. G. Barrell. 1998. Deciphering the biology of Mycobacterium tuberculosis from the complete genome sequence. Nature, 393, 537-544. http://dx.doi.org/10.1038/31159
Artikel ini merupakan terjemahan dari bahan yang disediakan oleh European Molecular Biology Organization via Science Daily (17 September 2012). Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.


Sumber http://www.nafiun.com/