Agresi Militer Belanda 2 Latar Belakang dan Penyebab

Hai sob, kali ini kita akan berguru sejarah, yaitu perihal Agresi Militer Belanda 2 yang mana artikel ini merupakan kelanjutan dari artikel aku sebelumnya sob yaitu peristiwa Agresi Militer Belanda 1 yang ceritanya cukup menarik untuk sahabat ketahui.

Nah bagi sahabat yang belum membaca artikel perihal Agresi Militer Belanda yang pertama, sahabat bisa mampir sejenak pada artikel diatas.

Sobat perlu ketahui, Belanda melaksanakan Agresi Militer untuk menjalankan misi tersembunyinya, yaitu mengembalikan Indonesia ke tangan mereka. Tujuan tersebut lah yang membuat Belanda melaksanakan banyak sekali hal untuk bisa mewujudkan tujuan tersebut.

Walaupun sudah ada beberapa perjanjian yang dibuat antara Indonesia dan Belanda, ternyata pihak Belanda masih bersikeras ingin menguasai Indonesia yang notabene sudah menjadi negara yang merdeka.

Bagaimana, menarik kan sob ceritanya, untuk kelanjutannya bisa sahabat baca artikel ini hingga selesai ya sob. Detail dari peristiwa Agresi Militer Belanda 2.

Sejarah Agresi Militer Belanda 2

Agresi Militer Belanda 2

Perjanjian Renville pada kesudahannya berakhir ketika Belanda menggelar Agresi Militer 2 pada tanggal 19 Desember 1948 yang mana kala itu ibu kota RI Yogyakarta diserbu oleh pasukan Belanda. Nah bagi yang belum tahu isi perjanjian renville bisa baca melalui link yang sudah aku sediakan.
Oke lanjut… Tanggal 18 Desember  1948 para pemimpin negeri ini melaksanakan sidang kabinet yang tujuannya untuk memindahkan ibu kota RI ke daerah lain.
Sidang tersebut kesudahannya mengambil keputusan untuk mengirim radiogram kepada Menteri Kemakmuran Syafrudin Prawiranegara yang mana ketika itu tengah berada di Sumatra untuk membentuk Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) dengan sentra di Bukittinggi.
Apabila PDRI di Bukittinggi itu gagal dibentuk, maka akan dibentuk PDRI pengasingan di India oleh M.M. Maramis, L.N. Pallar dan dr. Sudarsono. Sedangkan presiden dan wakilnya akan tetap berada di kota walaupun beresiko, yaitu ditawan oleh Belanda.
Peristiwa Agresi Militer Belanda 2

Alasan presiden dan wakil presiden tidak pindah ke Bukittinggi ialah agar mereka bisa dengan mudah ditemui oleh KTN sehingga perundingan akan tetap bisa berjalan.

Sementara itu, seluruh kekuatan TNI yang dikala itu masih ada dikota Yogyakarta diberi perintah untuk keluar kota bergerilya dipimpin oleh Panglima Besar Jendral Soedirman walaupun ia dalam kondisi yang sakit parah.
Dengan begitu, walaupun Belanda menguasai Yogyakarta dan menawan presiden, wakil presiden dan tokoh penting lain maka Negara Indonesia masih tetap berdiri.
Sementara Presiden dan Wakil Presiden diasingkan, TNI masih terus bergerilya dan pada tanggal 1 Maret 1949 TNI melaksanakan perebutan kembali kota Yogyakarta yang dipimpin oleh Letkol Soeharto, yang kemudian dikenal dengan Serangan Umum 1 Maret 1949.
Tujuan Serangan Umum tersebut ialah untuk menerangkan dan menyampaikan kepada dunia internasional bahwa negara Indonesia masih tetap bangkit dan TNI masih bisa melaksanakan perlawanan sekaligus mematahkan propaganda Belanda yang mengatakan bahwa Republik Indonesia sudah tidak ada.